Sejarah Tata Nama Tumbuhan


Sejarah Tata Nama Tanaman

Sejarah Tata Nama Tanaman

Sejarah Tata Nama Tumbuhan – Berikut ini adalah beberapa Sejarah Tata Nama Tumbuhan atau Sejarah Tata Nama Tanaman, untuk penamaan Tanaman adalah pemberian nama dengan menggunakan sistem formal.

Kriteria penamaan secara formal untuk tumbuhan darat, “alga” dan jamur didasarkan atas aturan dan rekomendasi dari International Code of Botanical Nomenclature atau ICBN (Kode Internasional Tatanama Tumbuhan atau KITT). Ada kode tatanama tumbuhan yang berbeda yaitu International Code for Cultivated Plants yang digunakan untuk tanaman budidaya. Nama botani berfungsi sebagai symbol dari kelompok makhluk hidup yang digunakan untuk komunikasi dan data referensi.

Fakta menarik bahwa ICBN memperlakukan nama organisme yang masih ada dan yang sudah berupa fosil yang “secara tradisional diperlakukan sebagai tumbuhan” meliputi bidang botani. Ini tidak hanya mencakup tumbuhan darat, tetapi juga alga biru (Cyanobacteri); jamur mencakup chytrid, oomyctes, dan jamur lendir; protista fotosintetik dan secara taksonomi berkerabat dengan kelompok non fotosintetik. Saat ini, ada beberapa taksa yang secara filogenetik tidak berkerabat dekat, namun masih tetap menggunakan ICBN.

Kode tatanama yang berbeda untuk zoologi (International Code of Zoological Nomenclature) dan untuk prokariotik (International Code of Nomenclature of Bacteria). Stu kesulitan dengan ini bahwa bakteri fotosintetik diberi nama mengikuti ICBN dan Tatanama Bakteri. Hal yang mirip, penamaan protista dengan ICBN dan Zoological Code. Jadi, beberapa organism mempunyai 2 nama dari kode tatanama yang berbeda. Pada masa yang akan dating

Kode berlaku universal mencakup semua bentuk kehidupan. International Code of Botanical Nomenclature menentukan aturan pemberian nama spesies dan nama akhir yang menunjukkan tingkatan takson. ICBN bermanfaat untuk 2 aktivitas yaitu

penamaan taksa baru, yang sebelumnya tidak bernama dan biasanya belum ada deskripsi

penentuan nama tepat untuk taksa yang belum bernama, yang mungkin ada revisi tingkatan yaitu digabung, ditransfer dan diubah.

Nama sah (legitimate name) adalah nama yang tidak sesuai dengan aturan ICBN. Beberapa nama yang melanggar/tidak sesuai dengan ICBN disebut sebagai nama yang tidak sah (illegitimate name). Nama berlaku (Valid name) merupakan nama yang dipublikasikan secara valid. Aturan ICBN dapat agak kompleks, sering membutuhkan ketelitian (dan mental seperti pengacara) Point perubahan kontroversi dan periodik menuju ICBN diputuskan selama pertemuan dalam kongres botani internasional. Yang dilaksanakan setiap 6 tahun sekali di beberapa Negara.

Asas Tatanama (Principles of Nomenclature) Berikut ini diuraikan Asas ICBN dari kode Wina tahun 2005.

1. Tatanama botani bebas dari tatanama hewan dan bakteri. Kode berlaku sama untuk kelompok takson yang diperlakukan sebagai tumbuhan apakah secara orisinal diperlakukan atau tidak.

2. Penerapan nama kelompok taksonomi ditentukan melalui tipe tatanama.

3. Tatanama kelompok taksonomi didasarkan pada prioritas publikasi.

4. Tiap kelompok taksonomi dengan sirkumskripsi. Posisi dan tingkatan tertentu hanya memiliki satu nama yang tepat, nama tertua yang sesuai dengan aturan, kecuali pada kasus spesifik.

5. Nama ilmiah kelompok taksonomi diperlakukan sebagai bahasa Latin tanpa menghiraukan asal mulanya.

6. Aturan tatanama berlaku surut kecuali dibatasi secara jelas. Detil ICBN tersusun menjadi sejumlah Aturan, yang tertuang dalam Pasal, Rekomendasi, dan Catatan bersifat penjelasan dan Contoh. Nama ilmiah Asas dasar tatanama keempat dari ICBN menyatakan bahwa setiap takson, apakah spesies, marga, famili dan seterusnya hanya dapat memiliki satu nama tepat. Hal ini hanya merupakan tindakan akal sehat. Kekacauan akan merajalela jika makhluk hidup mempunyai nama lebih dari satu atau jika satu nama diacu pada lebih dari satu mahkluk hidup. Pemberian nama ditetapkan oleh aturan ICBN dikenal sebagai nama ilmiah. Nama ilmiah, ditentukan oleh aturan dan dalam bahasa Latin atau diperlakukan dalam bahasa Latin. Nama ilmiah spesies adalah binomial (atau kombinasi biner) terdiri dari dua kata, kata marga dan penunjuk spesies.

Aturan binomial pertamakali secara konsisten digunakan oleh Carolus Linnaeus (juga dikenal Carl Linne atau Carl von Linne, 1707-1778), seorang botanist dari Swedia, yang sering disebut sebagai “Bapak Taksonomi”. Sebelum penggunaan binomial, penunjukkan sspesies tidak konsisten, penandaan spesies berupa desksripsi di alam; nama pada umumnya menggunakan lebih banyak kata bukan dua kata, dan nama sering bervariasi dari author ke author berikutnya. Sebagai contoh binomial, secara umum tumbuhan “mangga” mempunyai nama ilmiah Mangifera indica nama pertama Mangifera adalah nama marga dan selalu dengan huruf kapital.

Nama marga bisa disingkat dengan menuliskan huruf pertama, namun hanya jika sudah dituliskan secara lengkap.( agar tidak membingungkan dengan nama marga lainnya, contoh M. bisa merupakan singkatan dari Mangifera atau singkatan dari Manihot); jadi singkatan nama ilmiah tersbut adalah M. indica. nama kedua dari binomial di atas adalah indica merupakan petunjuk spesies. Petunjuk spesies bisa huruf kapital jika berupa pengingatan (nama orang atau tempat) tetapi ini optimal; kecenderungan saat ini petunjuk spesies tidak kapital. Nama spesies binomial selalu ditulis dengan huruf miring atau digarisbawahi. Nama spesies adalah seluruh binomial. Artinya tidak tepat jika dikatakan bahwa nama spesies untuk mangga adalah indica, kata indica adalah petunjuk spesies, yang banar sebagai nama spesies adalah Mangifera indica.

Kebalikan dari nama ilmiah adalah nama daerah (atau vernacular name) yang secara umum digunakan penduduk dengan area geografi yang terbatas. Nama daerah digunakan secara tidak formal dan tidak ditentukan oleh aturan. Nama ilmiah lebih baik daripada nama daerah dengan alasan:

1. Hanya nama ilmiah yang universal, digunakan sama di seluruh dunia; nama biasa bisa bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya, bahkan antar negara atau antar wilayah dalam satu negara. Sebagai contoh: spesies dari marga Ipomoea dikenal dengan nama “morning glory” di Amerika tetapi di Inggris disebut “woodbine”. Perbedaan bahasa, tentu saja akan menambah sejumlah nama biasa.

2. Nama daerah tidak konsisten. Satu takson bisa memiliki lebih dari satu nama biasa, ini sering bervariasi di wilayah yang berbeda.

Demikian juga di negara kita, Annona muricata paling tidak dikenal dengan 3 nama “moris”, “sirsak”, “nangka belanda”; Manihot utillisima “menyok”, “roti sumbu”, “ketela pohon”, “pohong”, “singkong”. Bisa juga satu nama biasa diacu untuk lebih dari satu takson”gedang” untuk Carica papaya dan Musa parasiaca.

3. Nama daerah tidak menunjukkan tingkatan dan klasifikasi, sedangkan nama ilmiah secara otomatis menunjukkan tingkatan paling sedikit beberapa informasi tentang klasifikasinya. Sebagai contoh tapak dara tidak menunjukkan tingkatan; bisa varitas, spesies, marga atau famili. Anonna muricata menunjukkan tingkat spesies dan berkerabat dekat dengan spesies lainnya dari marga Annona yaitu Anonna squamosa .

4. Banyak kelompok mahkluk hidup tidak memiliki nama dalam beberapa bahasa; jadi, nama ilmiah sendiri harus digunakan untuk mengacunya. Hal ini terutama terjadi untuk tumbuhan yang tidak mencolok, terdapat di wilayah terpencil, atau termasuk kelompok yang anggotanya sulit dibedakan antara satu dengan lainnya, atau kelompok tumbuhan yang tidak dimanfaatkan/berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Terdapat kecenderungan beberapa karya secara sembarangan mengubah semua nama ilmiah menjadi nama daerah dengan menerjemahkan bahasa Latin bahkan ketika nama daerah ini tidak digunakan oleh penduduk asli. Sebagai contoh “Adenium merah” atau Sansievera/ lidah mertua, bahkan jika nama ini tidak umum pemakaiannnya. Menurut autor bahwa hal ini kurang tepat dan lebih baik sederhana menggunakan nama ilmiah dan mengacu pada nama daerah jika ada, dan kenyataannya digunakan secara umum. Tingkatan Taksa diklasifikasi secara hirarki melalui tingkatan/rank. Tingkatan lebih tinggi mencakup semua tingkatan rendah

Perhatikan bahwa terdapat tingkatan “utama”, tingkatan “sekunder” dan tingkatan tambahan jika diperlukan digunakan penambahan awalan “sub”. Tiap nama ilmiah dari tingkatan tertentu harus diakhiri dengan akhiran sesuai dengan aturan dan rekomendasi ICBN. Sebagai contoh, Asteridae merupakan takson pada tingkatan subklas, Asterales merupakan tingkatan ordo, dan Asteraceae merupakan tingkatan famili dan seterusnya. Perhatikan bahwa taksa di atas marga tidak digarisbawahi atau dicetak miring. Ada satu perkecualian tentang penulisan akhiran nama tingkatan taksa yang telah diterima yaitu 8 nama famili, yang tidak berakhiran dengan aceae. Nama ini adalah Compositae (=Asteraceae), Cruciferae (=Brassicaceae), Gramineae (= Poaceae), Guttiferae (= Clusiaceae), Labiatae (=Lamiaceae), Leguminosae (=Fabaceae), Palmae (=Arecaceae) dan Umbelliferae (=Apiaceae). Selain itu, dalam Fabaceae (=Leguminosae) subfamili Papilionoideae diterima sebagai alternatif nama Faboideae.

Saat ini kecenderungan penggunaan nama famili standard berakhiran “aceae” dan menggunakan nama subfamili yang berdasarkan ini (yaitu menggunakan “Faboideae” daripada “Papilionoideae”). Bagaimanapun taksonomist tumbuhan harus mengenal nama alternatif ini, seperti mereka jaman dulu sering menggunakan serta penggunaan saat ini dalam karya flora atau lainnya. Posisi merupakan penempatan takson sebagai anggota dari takson lainnya dari tingkatan berikutnya yang lebih tinggi. Sebagai contoh, posisi marga Aster sebagai anggota famili Asteraceae. Taksa mungkin tingkatannya sama tetapi berbeda posisinya.

Rosa dan Aster sama-sama tingkatannya marga, namun Rosa posisinya pada Rosaceae dan Aster posisinya pada Asteraceae. Seperti yang telah disebutkan di awal bahwa awalan “sub” dapat digunakan secara formal; pada tingkatan nama pada kategori lebih diperlukan seperti subgenus atau subspesies. Dalam pandangan kurang formal awalan “sub” atau “infra” dapat digunakan untuk menunjukkan taksa dibawah satu tingkatan utama/mayor. Sebagai contoh subfamilia atau infrafamilia adalah tingkatan taksa di bawah famili mencakup subfamili. Puak (tribus), subtribus, subgenus, section, spesies, varitas dan seterusnya. Nama subspesies atau varitas merupakan trinomial (tiga nama) contoh Toxidendron radicans ssp diversilobum atau Brickellia argura var odontolepis.

Dalam contoh ini petunjuk subspesies adalah diversilobum; petunjuk varitas adalah odontolepis. Perhatikan bahwa, secara teknik, tingkatan taksa subspesies di atas varitas. Pada kenyataannya, subspesies dan varitas kadangkala dipertukarkan. Bagaimanapun, mungkin, tetapi jarang subspesies dibagi menjadi varitas. Authorship Semua nama ilmiah pada tingkatan dan di bawah tingkatan famili mempunyai nama pengarang (author), nama seseorang yang pertamakali mempublikasikan nama secara valid. Sebagai contoh, nama lengkap famili Rosaceae adalah Rosaceae Jussieu karena de Jussieu pertama kali secara formal memberi nama Rosaceae.

Contoh lain, nama lengkap dari tribus Conostylideae adalah Conostylideae Lindley; marga Mohavea adalah Mohavea A.Gray; spesies Mohavea confertiflora adalah Mohavea confertiflora (Bentham) Heller; subspesies Monandella linoides ssp viminea adalah Monandella linoides ssp viminea (Greene) Abrams. Pencipta nama sering disingkat seperti Haemodoraceae R.Br (untuk Robert Brown) atau Liquidambar styraciflua L (“L” singkatan standar untuk Linaeus) Walaupun author bagian dari nama ilmiah dan harus disebutkan pada semua publikasi ilmiah, pada kenyataannya author tidak perlu dihafalkan secara khusus atau disebutkan sebagai bagian dari nama ilmiah. Kadangkala nama author dari tingkatan tinggi (family ke atas) diabaikan bahkan dalam publikasi ilmiah, kecuali pada karya monografi karena sejarah tatanama taksa yang dipelajari diuraikan.

Pada beberapa publikasi flora dan jurnal, hanya taksa spesies dan infraspesies (subspecies atau varitas) yang dituliskan lengkap dengan nama author dan ini umumnya dituliskan sekali ketika nama pertamakali disebutkan. Mempelajari nama ilmiah Seperti argumentasi sebelumnya, penting untuk mempelajari nama ilmiah tumbuhan, dan mengejanya secara benar. Taksonomist tumbuhan tekun mempelajari beberapa ratus nama ilmiah selama hidupnya, yang merupakan sebagian kecil dari 250.000 tumbuhan atau lebih yang telah dideskripsi. Bagi taksonomist pemula, pertama kali akan mengalami kesulitan untuk mempelajari nama ilmiah. Berikut ini ada saran untuk memudahkan mempelajari nama ilmiah,

1. Pelajari nama ilmiah dengan merinci menjadi beberapa suku kata dan aksen/logat nama ilmiah. Sering lebih mudah menyebutkan dan mengeja nama ilmiah jika dengan sengaja dirinci menjadi beberapa suku kata, masing-masing kata diucapkan secara terpisah.

2. Pelajari etimologi (arti) nama ilmiah. Nama ilmiah sering merupakan deskripsi tentang morfologi tumbuhan. Contoh alba berarti putih atau leptophylla berarti daun sempit, kamu dapat menghubungkan nama ilmiah dengan ciri organismenya. Pemberian nama ilmiah dapat berasal dari nama orang atau nama tempat, jika demikian pelajarilah sejarah pemberian nama tersebut. Hal ini membantu kamu mengingat nama tersebut. Pada akhirnya mau tidak mau harus berlatih dan mengulang terus menerus. Gunakan kombinasi oral dan resitasi penulisan dengan tumbuhan, specimen tumbuhan, gambar, foto dan ingatan.

Tipe tatanama Asas kedua dari ICBN menyatakan bahwa nama ilmiah harus dikaitkan dengan tipe tatanama. Tipe tatanama hampir selalu berupa specimen yaitu lembar herbarium standar, tetapi bisa juga berupa gambar. Tipe berguna sebagai referensi nama tergantung yang mana nama didasarkan.

Ada beberapa tipe yang berbeda

1. Holotipe merupakan satu specimen atau gambar yang nama ilmiah didasarkan, secara orisinal ditunjukkan pada saat publikasi. Tipe digunakan sebagai sumber referensi pasti untuk menjawab pertanyaan identitas atau tatanama. Direkomendasikan holotipe disimpan di herbarium yang diakui secara internasional dan disebutkan sebagai salah satu kriteria untuk publikasi nama secara valid. Holotipe merupakan specimen yang sangat bernilai dan disimpan di herbarium.

2. Isotipe merupakan duplikat specimen dari holotipe, dikoleksi pada saat yang sama oleh orang yang sama dan populasi yang sama. ICBN merekomendasikan bahwa isotope ditunjukkan dalam publikasi nama baru. Isotope berharga karena duplikasi yang dipercaya dari takson yang sama dan beberapa disistribusikan ke beberapa herbarium untuk memudahkan taksonomist dari berbagai wilayah mempelajarinya. 3. Lektotipe merupakan spesiemen yang dipilih dari material orisinil yang ditunjuk sebagai tipe ketika holotipe tidak disebutkan pada saat publikasi atau holotipe hilang atau jika tipe orisinal terdiri dari lebih dari satu specimen atau satu takson. 4.

Neotipe merupakan specimen berasal dari koleksi yang tidak orisinal yang dipilih sebagai tipe ketika semua material yang dikaitkan dengan nama ilmiah hilang. Ada beberapa tipe (1) sintipe, beberapa specimen yang disebutkan dalam karya asli ketika holotipe tidak disebutkan; sebagai penggantinya, sintipe dapat berupa satu atau lebih specimen yang semuanya dsebutkan sebagai tipe.(2) paratipe specimen yang disebutkan tetapi bukan holotipe, isotope atau sintipe; (3) epitipe merupakan specimen atau gambar yang dipilih sebagai tipe jika holotipe, lectotipe atau neotipe ambigu yang berkaitan dengan identifikasi dan diagnosis takson. Secara normal, kita yakin bahwa tipe sebagai acuan pada takson tingkat spesies dan infraspesies.

Tipe specimen bisa sebagai acuan untuk tingkatan takson yang tinggi. Sebagai contoh, tipe specimen untuk nama marga sama seperti nama untuk spesies yang merupakan anggota marga tersebut yang dipublikasikan pertama kali. Demikian juga tipe specimen untuk nama family sama seperti nama untuk marga (anggota famili) yang dipublikasikan pertama kali. Prioritas publikasi Asas ketiga dari ICBN adalah prioritas publikasi yang secara umum menyatakan bahwa dua atau lebih kemungkina bersaing untuk nama, satu yang dipublikasikan pertama adalah nama yang tepat, dengan beberapa perkecualian.

Prioritas publikasi hanya diterapkan pada tingkat family ke bawah dan tidak diterapkan di luar tingkatan tertentu. Sebagai contoh, dua nama bersaing (keduanya nama sah dan dipublikasikan secara valid) — Mimulus (dipublikasikan 1753) dan Diplacus (dipublikasikan 1838) – Mimulus memiliki prioritas dan merupakan nama tepat ketika kedua nama marga dibandingkan untuk takson yang sama. Asas prioritas publikasi tumbuhan vaskuler dimulai tanggal 1 Mei 1753 ditandai oleh publikasi “Species Plantarum” oleh Linnaeus; nama yang dipublikasikan sebelumnya tidak dipertimbangkan prioritasnya.

Pelestarian nama Satu akibat yang merugikan dari asas prioritas adalah nama ilmiah terkenal dan sering digunakan mungkin digantikan oleh nama lainnya jika nama lain tersebut diketahui telah dipublikasikan lebih awal. Hal ini menyebabkan tatanama menjadi tidak stabil. Permohonan pelestarian nama bisa diajukan (dalam jurnal botani Taxon) dan diputuskan pada pertemuan International Botanical Congress untuk melestarikan satu nama dibanding nama lain yang sebenarnya memiliki prioritas. Beberapa prosedur diuraikan sebagai tiga amandemen ICBN: Nomina familiarum conservanda, Nomina generic conservanda et rejicienda dan Nomina species conservanda.

Alasan untuk melestarikan nama untuk memberikan stabilitas yang lebih besar dengan membolehkan nama yang terkenal dan secara luas digunakan untuk tetap dipertahankan. Perubahan nama Kadangkala, nama takson mengalami perubahan. Perubahan nama dapat terjadi karena dua alas an yaitu karena pengakuan bahwa nama bertentangan dengan aturan ICBN (nama tidak sah = illegitimate name) dan nama lain harus menggantikannya; karena studi atau riset taksonomi menghasilkan perubahan pembatasan takson, proses ini disebut denga revisi taksonomi.

Terdapat empat tipe dasar dari aktivitas tatanama yang dapat mengakibatkan perubahan nama:

1. Takson tunggal yang dipilah menjadi dua takson atau lebih , sering disebut takson “segregasi” karena takson ini dipisahkan dari takson lain dari klasifikasi orisinal. Pada umumnya hal ini dilakukan ketika pengenalan sifat dengan jelas membedakan dua takson atau lebih. Sebagai contoh, marga Langloisia dipilah (split) menjadi 2 marga, Langloisia dan Loeseliastrum, berdasarkan sejumlah sifat morfologi, anatomi dan serbuk sari. Secara ideal, kelompok segregasi harus monofilektik seperti didasarkan pada analisis kladistik secara teliti.

Berikut ini contoh takson yang dipilah: * Marga Carduus dari family Asteraceae sering dipilah menjadi dua marga yaitu Carduus mempunyai barbellate pappus bristle dan Cirsium mempunyai plumose pappus bristles. * Marga Rhus dari Anacardiaceae dipilah menjadi beberapa marga: Malosma, Rhus, Toxicodendron. * Family klasik Liliaceae dipilah menjadi Aliaceae, Hyacinthaceae, Liliaceae, dan Melanthiaceae. * Marga besar Haplopappus dari Asteraceae dipilah menjadi Anisicoma, Ericameria, Hazandia, Haplopappus dan Isocoma. Perhatikan bahwa takson besar dipilah menjadi dua takson atau lebih pada tingkatan yang sama, istilah sensu lato (disingkat s.l) dan sensu stricto (disingkat s.str atau s.s) bisa digunakan secara berturut-turut untuk membedakan cakupannya kurang dan cakupannya banyak. Sebagai contoh Haplopappus s.l. mencakup lebih banyak spesies dibanding Haplopappus s.s.

2. Perubahan nama utama terjadi karena dua nama atau lebih digabung menjadi satu. Satu alasan untuk menggabungkan taksa adalah pengenalan sifat yang sebelumnya digunakan untuk membedakan takson, studi lebih rinci tidak mendukung takson dibedakan karena tidak ada sifat karakter yang diskontinu. Alasan lain menggabungkan takson adalah analisa kladistik, dua takson atau lebih terpisah, merupakan parafiletik; sehingga untuk menghilangkan parafiletik takson harus digabungkan dengan takson lain sehingga menjadi monofiletik.

Nama yang digunakan adalah nama yang lebih awal publikasinya, sesuai dengan asas prioritas. Contoh sebagai berikut, * Spesies Bebbia juncea dan Bebbia aspera dianggap sama dan digabung dalam satu spesies yaitu B. juncea. * Marga Diplacus dan Mimulus, yang dibaung menjadi marga Mimulus. * Familia Apocynaceae dan Asclepidiaceae menjadi satu family yaitu Apocynaceae

3. Takson mungkin ditransfer posisinya, yaitu dari satu takson ke takson lain pada tingkatan yang sama. Contoh, * Spesies Rhus laurina ditransfer posisinya sebagai anggota Malosma, nama spesies baru adalah Malosma laurina. * Spesies Sedum variegate ditransfer ke marga Dudleya, nama spesies baru Dudleya variegate. Perlu diperhatikan bahwa transfer posisi mungkin hasil otomatis dari penggabungan atau pemilahan takson dari tingkatan tinggi. Sebagai contoh, jika marga Diplacus dan Mimulus digabungkan menjadi marga Mimulus, selanjutnya spesies Diplacus harus ditransfer posisinya.

4. Takson mungkin berubah tingkatannya. Sebagai contoh, * Spesies Eruca sativa berubah tingkatannya menjadi subspecies (dari spesies E. vesicaria), kombinasi baru Eruca veiscaria ssp sativa. * Varitas Viguiera deltoidea var parishii berubah tingkatannya menjadi spesies, nama baru menjadi Viguiera parishii. (V. deltoidea telah lama sebagai spesies berbeda ekuivalen sircumksripsinya dengan V. deltoidea var deltoidea). Perhatikan, bahwa perubahan dua tingkatan di atas diberi nama dengan hanya mempertahankan nama penunjuknya. Retensi nama penunjuk dari nama yang diubah merupakan rekomendasi ICBN, tetapi hanya jika nama awal untuk takson yang sama belum dipublikasikan pada tingkatan tersebut (dan juga, jika hanya nama sama belum digunakan untuk takson yang lain; lihat homonim).

Asas prioritas tidak diterapkan di luar tingkatan taksa; ini berarti bahwa jika nama diubah tingkatannya, tanggal publikasi dari nama asli (sebelum perubahan tingkatan) tidak dapat dipertimbangkan dalam mengevaluasi prioritas publikasi berkenaan dengan perubahan. Dalam beberapa hal studi taksonomi menghasilkan remodel takson yaitu perubahan karakteristik diagnostic yang membedakan takson dengan takson yang lain. Dalam hal ini, perubahan namatidak diperlukan dan aturan ICBN tidak diterapkan.

Basionim merupakan “nama pembawa atau penunjuk pembawa sinonim” yaitu nama orisinal (tetapi ditolak), sebagian nama digunakan dalam kombinasi baru. Seperti terlihat di awal, jika nama spesies dan infraspesies ditransfer tingkatannya atau posisinya penunjuk spesies atau infraspesies basionim dipertahankan (retensi) kecuali melanggar aturan kode lainnya, seperti prioritas publikasi yaitu jika nama telah digunakan untuk takson lain pada tingkatan sama. Nama author yang secara orisinal menamai basionim juga dipertahankan dan diletakkan dalam tanda kurung di depan author yang membuat perubahan. Jadi, nama botani mempunyai dua set author: author-set dalam kurung- yang secara orisinal memberi nama basionim, dan author yang membuat perubahan nama. Dari beberapa contoh yang telah disebutkan diatas: * Jika Sedum variegate Wats. ditransfer ke marga Dudleya oleh Moran, nama spesies baru menjadi Dudleya variegate (Wats.) Moran.

Penunjuk orisinal dipertahankan dan author yang berkaitan dengan penunjuk, dalam hal ini Watson, tetap dipertahankan tetapi diletakkan di dalam kurung sebelum author baru. Dalam hal ini basionim adalah Sedum variegate Wats., adalah nama orisinal. * Ketika Dilatris caroliniana Lam. ditransfer ke marga Lachnanthes oleh Dandy, nama spesies baru menjadi Lachnanthes caroliniana (Lam) Dandy. Dalam hal ini basionim adalah Dilatris caroliniana Lam. * Jika Funaria bulbosa L var solida L. diangkat ke tingkatan spesies oleh Miller, nama baru menjadi Funaria solida (L.) Miller . dalam hal ini basionim adalah Funaria bulbosa L var solida L. Kemudian terjadi perubahan lagi, Funaria solida (L.) Miller ditransfer posisinya ke marga Corydales oleh Clairv, nama baru menjadi C. solida (L) Clairv (bukan C. solida (Mill.) Calirv).

Perlu diperhatikan bahwa author nama varitas dari basionim Funaria bulbosa L var solida L. dipertahankan, diletakkan dalam tanda kurung. Autonim merupakan nama yang diciptakan secara otomatis untuk takson infrafamili, inframarga, dan infraspesies. Autonym digunakan bila family dipilah menjadi subfamily, puak atau subpuak; marga dipilah menjadi submarga atau seksio; atau spesies dipilah menjadi subspecies. Dari dua taksa atau lebih yang dibentuk, autonym ditentukan berdasarkan prioritas, yaitu kelompok yang mencakup takson yang telah dipublikasikan pertamakali. Autonym tidak memiliki author; hanya takson tinggi yang mana didasarkan dan subtaksa lainnya mempunyai authorship resmi. Sebagai contoh Isely memilah Lotus stipularis (Benth.) E Greene menjadi dua varitas: L. stipularis (Benth.) E Greene var ottleyi Isely dan L. stipularis (Benth.) E Greene var stipularis Isely; catatan bahwa nama varitas terakhir, mengandung autonim, kehilangan authorship karena tipenya sama dengan spesies yang dideskripsi orisinal. Untuk taksa infrafamili, autonim memiliki nama asal yang sama seperti family tetapi dengan akhiran berbeda yang berkaitan dengan tingkatan infrafamili.

Sebagai contoh, family Euphorbiaceae biasanya dipilah menjadi subfamilia, salah satunya Euphorbioideae adalah autonym; tentu saja, subfamily beranggotakan Euphorbia, tipe untuk family. Untuk takson infra marga, namanya identik dengan nama marga harus didahului dengan nama tingkatan untuk menghindari kekacauan. Sebagai contoh Ceanothus terdiri dari 2 submarga, subgenus Ceanothus dan subgenus Cerates; subgenus Ceanothus merupakan satu nama yang mencakup tipe untuk marga itu sendiri. Untuk takson infraspesies, autonym identik dengan penunjuk spesies. Sebagai contoh: Eriogonum fasciculatum dipilah menjadi beberapa varitas, salah satunya adalah Eriogonum fasciculatum var fasciculatum, termasuk autonim (dan didasarkan pada tipe specimen orisinal untuk spesies) Publikasi Valid Sesuai dengan ICBN, agar nama ilmiah diakui secara formal, nama harus dipublikasikan secara valid. Terdapat empat kriteria untuk publikasi nama yang valid.

1. Nama harus dipublikasikan secara efektif, yang berarti harus dipublikasikan dalam jurnal yang secara umum tersedia bagi botanist (tidak disebutkan dalam surat kabar atau majalah penelitian public nasional)

2. Nama harus dipublikasikan dalam bentuk yang benar, dalam bahasa Latin atau dilatinkan, dengan menunjukkan tingkatannya ( contoh “sp.nov”, atau “gen.nov”, baca tentang singkatan) Nama sah dalam bentuk benar disebut sebagai nama dapat diterima (admissible name)

3. Nama harus dipublikasikan dengan deskripsi atau diagnosis dalam bahasa Latin atau dengan merujuk referensi. Deskripsi bahasa Latin jelas menyebutkan sifat karakter yang berbeda dengan takson yang berkerabat de.kat. (Selain itu, deskripsi lebih rinci dalam bahasa daerah atau referensi pada deskripsi sebelumnya biasanya disertakan, tetapi tidak diperlukan)

4. Untuk taksa marga ke bawah , tipe tatanama harus ditunjukkan; lokasi tipe ini juga harus ditunjukkan (menggunakan akronim dari Index Herbariorum). Contoh tentang ppublikasi nama ilmiah yang valid dapat dibaca berikut ini. Penyebutan lengkap nama ilmiah tidak hanya meliputi authorship tetapi juga tempat dan tanggal publikasi. Sebagai contoh penyebutan lengkap untuk spesies pada contoh berikut ini adalah “Perityle vigilans Spellenb & A Powell, Syst Bot. 15: 252. 1990”.

Penyebutan nama lengkap dimasukkan dalam daftar International Plant Names Index. Sinonim yaitu author menolak klasifikasi yang ditunjukkan oleh sinonim. Sinonim mungkin Sinonim adalah nama yang ditolak (rejected name), oleh author tertentu. Sinonim ditolak karena (1) nama tidak sah, bertentangan dengan aturan ICBN; atau (2) karena pertimbangan taksonomi didasarkan atas tipe specimen yang sama atau berbeda dari nama tepat. Nama tepat (correct name) adalah nama sah yang diterima oleh author. Ingat bahwa asas dasar ICBN yang menyatakan bahwa tiap takson hanya dapat memiliki satu nama tepat. Jadi, jika terdapat dua nama atau lebih bersaing untuk takson yang sama, contoh Malosma laurina (Nutt.) Abraham dan Rhus laurina Nutt., hanya satu di antaranya yang tepat. Bagaimanapun nama yang tepat tergantung pada author dari referensi jurnal atau buku diberikan. Sebagai contoh sesuai dengan satu author Rhus laurina Nutt. adalah nama tepat dan Malosma laurina (Nutt.) Abraham adalah sinonim. Menurut author lainnya Malosma laurina (Nutt.) Abraham adalah nama tepat dan Rhus laurina Nutt. adalah sinonim. Sinonim ditunjukkan secara khas yaitu dalam kurung mengikuti nama tepat contohnya Malosma laurina (Nutt.) Abraham [Rhus laurina Nutt.] atau Machaeranthera juncea (Greene) Hartman [Haplopappus juncea Greene]. Kemungkinan lain jika sinonim disebutkan atau dirujuk, nama tepat sering ditunjukkan dengan didahului tanda =

Sebagai contoh Cyrtanthera Nees = Justicia, nama tepat adalah Justicia, sinonimnya adalah Cyrtanthera. Homonim merupakan satu dari dua nama atau lebih yang identik (tidak termasuk author) yang didasarkan atas tipe specimen yang berbeda. Homonim berikutnya, didasarkan pada tanggal publikasi adalah tidak sah (kecauali yang dilestarikan). Sebagai contoh: Tapeinanthus Herb (1837), anggota Amaryllidaceae, dan Tapeinanthus Boiss. Ex Benth. (1848), anggota Lamiaceae adalah homonym.

Homonym berikutnya anggota Lamiaceae tidak sah [diberi nama lagi oleh Thuspeinanta T.Durand (1888)] Tautonim merupakan binomial yang mana pengejaan nama marga dan penunjuk spesies identik. Tautonim tidak diperkenankan dalam tatanama tumbuhan. Sebagai contoh: nama Helianthus helianthus adalah tautonim dan tidak sah, sedangkan Helianthus helianthoides bukan tautonim dan diperbolehkan (catatan bahwa tautonim diijinkan dalam tatanama zoology) Singkatan Singkatan tertentu digunakan dalam nama ilmiah.

1. Kata “ex” berarti “dipublikasi secara valid oleh” contoh Microseris elegans Greene ex A.Gray berarti Asa Gray mempublikasikan secara valid nama Microseris elegans yang secara orisinal diusulkan oleh Greene tetapi tidak dipublikasikan secara valid. Kata “ex” dan nama author awal bisa dihilangkan, sehingga namanya Microseris elegans A.Gray

2. Kata “in” berarti “dalam publikasi” mengacu pada nama publikasi bersama karya besar diciptakan oleh seseorang diikuti “in”. Contoh: Arabis sparsiflora Nutt. in T.&G. berarti bahwa Nuttall mempublikasikan nama tersebut secara valid dalam karya yang dikarang oleh Torrey dan Gray. “In” ditambah author yang mengikutinya bisa dihilangkan untuk singkatnya seperti Arabis sparsiflora Nutt. (pemakaian kata “in” tidak direkomendasikan dalam ICBN).

3. Tanda x menunjukkan hybrid. Contoh: Salvia x palmeri (A.Gray) E.Greene adalah takson yang diberi nama (dipublikasikan secara valid) menggambarkan hybrid antara dua spesies: S. apiana Jepson dan S. elevelandii (A.Gray) E.Greene. Alternative lain, hybrid ini bisa ditulis S. apiana Jepson x S. elevelandii (A.Gray) E.Greene. Hibrid juga bisa ditunjukkan dengan penempatan awal kata notho sebelum nama tingkatan, seperti Polypodium vulgare nothosubsp. mantoniae (Rothm.) Schidlay (menunjukkan bahwa nama subspecies adalah hybrid.

4. Singkatan lainnya: * emend (emendation) berarti koreksi atau amendemen. * et adalah bahasa Lain berarti dan * nom.cons. (nomen conservandum) berarti nama yang dilestarikan. * nom.nud. (nomen nudum) berarti nama dupublikasikan tanpa deskripsi atau diagnosis, tidak sah. * nom.nov (nomen novum) berarti nama baru Kebebasan tatanama tumbuhan International Code Botanical Nomenclature bebas/tidak saling terkait dengan International Code Zoological Nomenclature. Jadi, mungkin ada beberapa nama tumbuhan, algae atau jamur yang identik dengan hewan (dan “Protista”). Sebagai contoh Morus mengacu tumbuhan, mulberi dan burung, gannent. Ficus merupakan nama marga karet dan kelompok gartopoda. Kode yang terpisah juga digunakan untuk “Prokaryot” termasuk bakteri dan virus.

Pertanyaan untuk review 1. Sebutkan tingkatan dari takson dengan nama berikut: (a) Conostyloideae; (b) Flacourtiaceae; (c) haemodoreae; (d) Hammalidae; (e) Linnaea borealis var. longifera; (f) Liliopsida; (g) Magnoliophyta; (h) Rosales; (i) Tribonanthes; (j) Tribonanthes variegate; (k) Phlebocarpa ciliate ssp. pilosissima.

2. Apa perbedaan tingkatan dan posisi?

3. Nama Quercus dumosa Nutt all, apa yang dimaksud (a) Quercus; (b) dumosa; (c) Quercus dumosa; (d) Nut all?

4. Sebutkan alasan mengapa nama biasa merugikan.

5. Apa yang dimaksud dengan tipe tatanama?

6. Siapa yang pertamakali menggunakan binomial secara konsisten dan disebut sebagai “bapak taksonomi?

7. Sebutkan taksa yang mempunyai tipe tatanama!

8. Apa yang dimaksud dengan prioritas publikasi?

9. Bagaimana bisa nama sah tetapi tidak tepat?

10. Tuliskan dua alasan nama ditolak.

Latihan/Tugas: 1. Gunakan referensi: Flora tumbuhan local [Flora of Java (Backer, 1960); Flora untuk Sekolah (Steenis,1989], catat 12 nama ilmiah beserta daftar sinonim dari nama tersebut. Lacak sejarah tata nama dari nama taksa ini sebaik mungkin data diperoleh, terutama mencatat nama dalam tanda kurung. 2. Carilah 12 nama ilmiah ini menggunakan International Plant Names Index (http://www.ipni.org). Catat tanggal dan jurnal/buku publikasi nama-nama ini. Juga catat semua sinonim. Apakah informasi tambahan ini menjelaskan sejarah tatanama takson? 3. Uraikan nama tersebut dalam suku kata, aksen dan pelafalannya dengan memanfaatkan referensi yang ada. 4. Kaji publikasi nama ilmiah di bawah ini. Apakah sudah memenuhi publikasi sah atau tidak? Lingkari tiap komponen persyaratan publikasi nama ilmiah pada karya publikasi berikut ini! Referensi Radford, Albert E. 1986. Fundamentals of Plant Systematics. New York: Harper & Row Simpson. Michael G. 2011. Plant Systematics. Canada: Elsevier. Stern, Wiliam T. 1992. Botanical Latin: History, Grammar, Syntax, terminology and Vocabulary. David & Charles, Brunel House, Newton Abbot, Devon.UK

loading...


Sejarah Tata Nama Tumbuhan

2013 abercrombie men stripe polos abercrombie fitch tooling pants abercrombie ftich washed shirts, pohon khas australia makanan koala, pohon khas australia, nama lain pohon katilayu, pohon berbuah polong, perbedaan bunga kantil dan cempaka, perbedaan neuralgin rx dan neuralgin rhema, efek samping zedo plus, samquinor, medsalgin